DONGENG KEJUTAN KAKEK | DONGENG ANAK DUNIA

oleh Pupuy Hurriyah

kejutan kakek
Dongeng kejutan kakek - Apa kejutan kakek kali ini? Jodi, Jenny, Gina, Bobi, dan aku mencoba menerka. Kami, lima sepupu selalu mengisi liburan sekolah di rumah kakek. Kakek selalu memberikan kejutan!

Kakek pernah mengajak kami mengunjungi desa Geulis yang berseberangan dengan desa Sae, desa tempat kakek tinggal. Wah! Kami harus melewati jembatan gantung.

Jembatan gantung itu terbuat dari jalinan akar pohon beringin yang tumbuh di dua desa, desa Geulis dan desa Sae. Di bawah jembatan gantung, mengalir air jernih Sungai Caiherang. Jembatan gantung ini panjangnya tiga puluh meter dan tingginya enam meter.

Selangkah, dua langkah, kami berjalan gagah. Sampai di tengah-tengah jembatan, iiihh... kami saling bergandengan. Jalinan akar jembatan yang tidak rata dan air sungai yang mengalir deras di bawah jembatan, membuat kami deg-degan.

"Tetap berpegangan pada siis jembatan." Kakek mengingatkan. Pegangan lurus ke depan, jangan lihat ke bawah."

Hati-hati kami melewati jembatan gantung, lalu hop hop hop. Satu per satu kami melompat sampai desa Geulis.

Kakek pernah mengajak kami menyusuri pasar sepanjang desa Sae. Kami keluar masuk pasar membawa belanjaan yang tidak pernah kami temui di kota. Ada buah kesemek, kecapi, jamblang, ceri, dan jambu monyet.

"Bagaimana rasanya?" tanya kakek.
Hmmmm....." Kami berlomba mengacungkan jempol tinggi-tinggi.

Kakek pernah mengajak kami ke sebuah ranch, menunggang kuda seperti koboi, lengkap dengan kostumnya.

"Ayo, kita berlomba!" Kakek menepuk kuda tunggangannya.

Keteplak... keteplok... Kuda-kuda kami beradu cepat mengejar kakek yang melesat bersama si black.

Kakek pernah mengajak kami membuat pertunjukan wayang. Ada banyak wayang di lemari kayu kakek. Semar, Cepot, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, Arjuna, Bima, Nakula, Sadewa dan Gatotkaca. Kami terkikik mendengar suara kakek mendalang.

"Ayo kalian harus bisa mendalang." Kakek memberi kami masing-masing sebuah wayang.

Kakek tinggal di sebuah rumah di atas bukit. Di belakang rumah kakek, tumbuh sebatang pohon oak yang sangat besar. Pertama kali berlibur di rumah kakek, kami takut pada pohon oak. Malam-malam, seringkali angin bertiup kencang, membuat daun-daun dan dahan-dahan saling bergesekan. Bunyinya menyeramkan.

Supaya kami tidak takut, kakek mengajak kami melihat sendiri pohon oak itu. Ternyata memang itu hanya bunyi daun dan dahan yang tertiup angin.

Kini, kami tidak takut lagi kalau mendengar bunyi dari pohon oak. Liburan kali ini, kami malah terkagum-kagum melihat pohon oak itu. Kakek membuat kejutan seru di pohon itu. Sungguh menyenangkan!

"Kapan kakek mengerjakannya?" tanya Jodi girang.
"Liburan yang lalu, belum ada kan?" kata Jenny hampir tak percaya.
"Pasti mengerjakannya butuh waktu lama." Aku mengagumi hasil karya kakek.

Kakek tertawa riang. "Saat kalian belajar di sekolah, di sini pun kakek belajar. Kakek memikirkan sesuatu yang dapat membuat cucu-cucu kakek bahagia."

Si kecil Bobi menatap kakek serius. "Apa yang kakek pelajari? Kalau aku di sekolah belajar menyanyi, menggambar, dan baris berbaris."

Kakek terkekeh. "Tahun ini, kakek belajar membuat rumah pohon."

Kakek menatap bangga pada rumah buatannya di atas pohon oak. Ya itulah kejutan seru dari kakek. Sebuah rumah pohon untuk kami!

"Ceritakan kek, bagaimana awalnya?" pinta Gina.
"Sore itu.... "Kakek mulai bercerita. "Kakek sedang duduk-duduk di teras belakang memandangi pohon oak. Tiba-tiba bayangan kalian menari-nari di pelupuk mata kakek. Kalian bermain di bawah pohon oak."

Kami saling merapat, serius mendengarkan cerita kakek.
"Kalian bermain ular naga. Jodi berdiri paling depan menjadi kepala ular. Bobi berdiri paling belakang menjadi ekor ular. Hanna, Gina dan Jenny di tengah menjadi badan."

"Menjadi ekor ular naga? Menyenangkan!" seru Bobi.
"Tiba-tiba seorang pangeran datang. Ia hendak menangkap ular naga tersebut untuk dibawa ke istana."

"Oh! bagaimana nasib ular naga itu?"
"Nah, saat itulah sesuatu terlintas dalam benak kakek,"seru kakek bersemangat. "Andai pohon oak memiliki tangga dan rumah, maka ular naga dapat bersembunyi dan selamat dari serangan pangeran."

"Akhir cerita yang seru!" Kami bertepuk tangan.
Si kecil Bobi berlari ke pangkuan kakek. "Terima kasih, Kakek." Ia menghujani kakek dengan ciuman.

Kakek mendapat ciuman bukan hanya dari Bobi. Tetapi juga dari Jodi, Jenny, Gina dan aku.
Kami memeluk kakek penuh sayang.

Kejutan kakek selalu kami nanti-nantikan.... - Dongeng Anak Dunia

Related Posts: